Persiapan seleksi kerja tidak cukup hanya dengan memperbaiki CV dan mempelajari profil perusahaan. Psikotes juga sering digunakan untuk melihat kemampuan berpikir, memahami informasi, menyelesaikan masalah, ketelitian, dan kecenderungan karakter kandidat.
Karena bentuknya beragam, latihan psikotes kerja penting dilakukan sebelum mengikuti seleksi. Latihan membantu peserta mengenali pola soal dan terbiasa mengerjakan tes dalam waktu terbatas, bukan sekadar menghafalkan jawaban.
Apa yang Dimaksud dengan Psikotes Kerja

Psikotes kerja adalah serangkaian tes yang digunakan dalam proses seleksi untuk mendapatkan gambaran mengenai kemampuan dan karakteristik calon karyawan. Melalui tes ini, perusahaan dapat memperoleh informasi tambahan mengenai kemampuan berpikir logis, pemahaman verbal, kemampuan numerik, ketelitian, konsentrasi, cara menyelesaikan masalah, maupun aspek kepribadian kandidat.
Berbeda dengan ujian sekolah atau kuliah yang biasanya memiliki materi yang sudah ditentukan, psikotes kerja mempunyai bentuk yang lebih beragam. Satu perusahaan dapat menggunakan tes numerik dan verbal, sedangkan perusahaan lain mungkin menambahkan tes gambar, penalaran, ketelitian, atau kepribadian. Bahkan dalam satu proses seleksi, peserta dapat menghadapi beberapa jenis tes sekaligus.
Karena itu, tidak ada satu daftar soal yang bisa dianggap pasti keluar di semua perusahaan. Contoh soal yang beredar di internet sebaiknya digunakan untuk mengenali tipe dan pola pertanyaan, bukan dianggap sebagai bocoran soal seleksi. Beberapa referensi psikotes kerja juga menunjukkan variasi materi mulai dari sinonim, antonim, analogi, deret angka, logika penalaran, spasial, Kraepelin-Pauli, Wartegg, hingga tes kepribadian.
Inilah alasan latihan perlu dilakukan secara beragam. Semakin banyak bentuk soal yang dikenali, semakin mudah peserta menentukan pendekatan ketika menghadapi soal yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Baca juga: Tips Lulus Psikotes Menggambar Orang dan Pohon, Strategi Agar Lebih Percaya Diri Saat Tes
Jumlah Soal Psikotes Kerja
Tidak ada jumlah soal psikotes kerja yang berlaku sama untuk semua perusahaan. Jumlahnya bergantung pada jenis tes, penyedia asesmen, posisi yang dilamar, serta rangkaian psikotes yang dipilih perusahaan. Jobstreet pada pembaruan 2026 juga menunjukkan bahwa psikotes kerja dapat terdiri dari berbagai bentuk, seperti analogi verbal, logika matematika, deret angka, tes kepribadian, Wartegg, hingga Kraepelin/Pauli.
Sebagai gambaran, jumlah tugas pada beberapa jenis psikotes dapat berbeda cukup jauh. Tes Wartegg biasanya menggunakan 8 kotak stimulus, sedangkan tes kemampuan spasial dapat berisi sekitar 20–40 soal tergantung format tes. Pada tes Pauli atau Kraepelin, peserta justru berhadapan dengan deretan angka dalam jumlah sangat banyak yang harus dihitung dalam batas waktu tertentu.
Dalam satu rangkaian seleksi, total soal bahkan dapat mencapai ratusan apabila perusahaan menggabungkan beberapa subtes. Sebagai contoh simulasi psikotes kerja 2026, terdapat paket yang memuat 285 soal dengan durasi 130 menit. Namun, angka tersebut merupakan contoh paket simulasi dan bukan standar resmi jumlah soal psikotes kerja di semua perusahaan.
Karena itu, calon peserta sebaiknya tidak terpaku pada satu angka. Informasi yang lebih penting adalah mengetahui jenis psikotes yang digunakan perusahaan, jumlah subtes, durasi pengerjaan, serta petunjuk pada masing-masing tes.
Mengenal Bentuk Psikotes yang Perlu Dipelajari

Sebelum mulai mengerjakan latihan, penting untuk mengenali kelompok soal yang mungkin ditemui. Tujuannya bukan untuk menebak soal yang akan keluar, melainkan agar proses belajar lebih terarah. Jenis yang umum dibahas dalam latihan psikotes kerja antara lain kemampuan verbal, numerik, logika, spasial, ketelitian, dan kepribadian.
1.1 Tes Angka dan Kemampuan Numerik
Tes numerik berkaitan dengan kemampuan memahami angka dan melakukan perhitungan. Bentuknya dapat berupa deret angka, operasi matematika dasar, perbandingan, persentase, atau soal yang meminta peserta menemukan hubungan antarangka.
Pada soal deret, perhatikan perubahan dari satu angka ke angka berikutnya. Polanya bisa berupa penambahan dengan jumlah tertentu, perkalian, pengurangan, atau perubahan selisih secara bertahap.
Contohnya:
3, 6, 12, 24, …
Angka berikutnya adalah 48 karena setiap angka dikalikan 2.
Namun, tidak semua deret menggunakan pola perkalian. Misalnya:
4, 7, 12, 19, 28, …
Selisihnya adalah +3, +5, +7, +9, sehingga selanjutnya +11. Maka jawabannya adalah 39.
Selain deret angka, peserta juga sebaiknya menguasai hitungan dasar seperti persentase dan perbandingan karena kemampuan numerik tidak selalu berbentuk deret.
1.2 Tes Kata dan Kemampuan Verbal
Tes verbal berkaitan dengan kemampuan memahami arti kata, hubungan antarkata, serta informasi yang disampaikan melalui bahasa. Bentuk yang umum dilatih antara lain sinonim, antonim, analogi, pengelompokan kata, dan hubungan makna.
Contoh sederhana:
Sinonim dari “akurat” adalah …
A. Lambat
B. Tepat
C. Rumit
D. Sulit
Jawaban: B. Tepat
Pada soal analogi, peserta perlu memahami hubungan antara pasangan kata. Misalnya:
Guru : Murid = Dokter : …
Jawaban yang tepat adalah Pasien karena hubungan yang dicari adalah profesi dengan orang yang dilayani.
Pada bagian verbal, jangan hanya mengandalkan hafalan kosakata. Pahami konteks dan hubungan antarkata karena pilihan jawaban dapat memiliki makna yang cukup mirip.
1.3 Tes Logika dan Penalaran
Tes logika digunakan untuk melihat kemampuan peserta dalam menghubungkan informasi dan menarik kesimpulan. Soalnya dapat berupa pernyataan, hubungan sebab-akibat, pola angka, maupun persoalan yang membutuhkan analisis.
Contohnya:
Semua karyawan mengikuti pelatihan. Budi adalah karyawan. Kesimpulannya adalah …
A. Budi tidak mengikuti pelatihan
B. Budi mungkin mengikuti pelatihan
C. Budi mengikuti pelatihan
D. Budi bukan karyawan
Jawaban: C. Budi mengikuti pelatihan.
Kunci dari soal seperti ini adalah tidak menambahkan informasi di luar pernyataan. Gunakan informasi yang diberikan dalam soal, kemudian tentukan kesimpulan berdasarkan hubungan logisnya.
1.4 Tes Gambar dan Kemampuan Spasial
Tes gambar atau spasial berkaitan dengan kemampuan memahami bentuk, posisi, arah, dan hubungan visual. Peserta dapat diminta mencari gambar yang berbeda, melanjutkan pola, menentukan bentuk setelah diputar, atau memilih gambar yang memiliki hubungan tertentu.
Jenis tes ini terkadang terasa sulit bagi peserta yang lebih terbiasa mengerjakan soal berbentuk tulisan. Karena itu, latihan visual perlu dilakukan secara rutin agar peserta terbiasa memperhatikan bentuk dan detail.
Selain tes spasial, terdapat pula bentuk tes gambar lain seperti Wartegg atau beberapa tes menggambar yang sering dibahas dalam materi psikotes. Namun, penggunaannya dapat berbeda pada setiap perusahaan karena bentuk seleksi ditentukan oleh penyelenggara.
1.5 Tes Ketelitian dan Konsentrasi
Tes ketelitian menguji kemampuan mempertahankan fokus ketika berhadapan dengan banyak informasi. Peserta dapat diminta mencocokkan angka, mencari simbol tertentu, membandingkan karakter, atau mengerjakan hitungan secara berulang.
Tes seperti Kraepelin atau Pauli sering dikaitkan dengan latihan yang membutuhkan kecepatan dan konsistensi dalam mengerjakan hitungan.
Kesulitan pada bagian ini bukan hanya soal kemampuan menghitung. Peserta juga perlu mempertahankan konsentrasi ketika soal terus bertambah dan waktu terus berjalan. Karena itu, latihan sebaiknya tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga menjaga jumlah kesalahan tetap rendah.
1.6 Tes Kepribadian
Tes kepribadian memiliki karakter yang berbeda dari soal matematika atau verbal. Peserta biasanya dihadapkan pada sejumlah pernyataan dan diminta memilih jawaban yang paling menggambarkan dirinya.
Tujuannya adalah mendapatkan gambaran mengenai kecenderungan perilaku atau karakter kandidat. Beberapa materi psikotes kerja membahas instrumen seperti MBTI, EPPS, DISC, maupun bentuk tes kepribadian lainnya.
Untuk bagian ini, jangan terlalu sibuk mencari jawaban yang dianggap paling ideal. Baca setiap pernyataan dengan teliti dan jawab secara jujur sesuai kondisi diri. Jawaban yang tidak konsisten dapat membuat hasil tes kurang menggambarkan diri secara baik.
Baca juga: Ciri-Ciri Jawaban Psikotes yang Disukai oleh HRD, Ini yang Dicari Saat Seleksi Kerja
Contoh Latihan Psikotes Kerja dan Pembahasannya
Latihan soal untuk membiasakan diri dengan pola pertanyaan psikotes kerja.
Setelah memahami kelompok tes, latihan dapat dimulai dari soal sederhana. Berikut beberapa contoh yang dapat digunakan untuk membiasakan diri dengan pola pertanyaan.
Contoh 1: Deret Angka
Setiap angka dikalikan 2. Jadi 40 × 2 = 80.
Contoh 2: Persentase
Sebuah barang memiliki harga Rp250.000 dan mendapatkan diskon 20%. Harga setelah diskon adalah …
20% dari Rp250.000 adalah Rp50.000. Setelah dikurangi diskon, harga barang menjadi Rp200.000.
Contoh 3: Sinonim
Persamaan kata “konkret” adalah …
Konkret berarti sesuatu yang nyata atau dapat diamati secara langsung.
Contoh 4: Analogi
Buku digunakan untuk membaca, sedangkan makanan digunakan untuk dimakan.
Contoh 5: Logika
Semua peserta yang lolos tahap administrasi mengikuti tes. Rina tidak mengikuti tes. Berdasarkan pernyataan tersebut, kesimpulan yang paling tepat adalah …
Pernyataan menyebutkan bahwa peserta yang lolos administrasi mengikuti tes. Jika Rina tidak mengikuti tes, dalam konteks logika soal tersebut Rina tidak termasuk peserta yang lolos administrasi.
Contoh di atas hanya digunakan sebagai latihan untuk memahami pola. Soal yang diberikan perusahaan dapat mempunyai bentuk, tingkat kesulitan, dan sistem penilaian yang berbeda.
Materi Tes yang Biasanya Keluar saat Psikotes Kerja
Materi psikotes kerja dapat berbeda pada setiap perusahaan karena jenis tes biasanya disesuaikan dengan posisi dan kebutuhan rekrutmen. Namun, beberapa materi cukup sering ditemukan dalam proses seleksi, mulai dari kemampuan numerik hingga kepribadian. Jobstreet pada pembaruan 2026 juga mencantumkan bentuk psikotes seperti analogi verbal, logika matematika, Kraepelin/Pauli, dan Wartegg sebagai jenis yang umum ditemui dalam seleksi kerja.
Tes Numerik
Tes numerik mengukur kemampuan memahami angka dan hubungan matematis. Bentuk soalnya dapat berupa:
- deret angka;
- perbandingan;
- persentase;
- aritmetika dasar;
- soal cerita sederhana.
Peserta biasanya perlu menemukan pola atau melakukan perhitungan dengan cepat dan teliti.
Tes Verbal
Tes verbal berhubungan dengan kemampuan memahami kata dan hubungan antarinformasi. Materinya dapat mencakup:
- sinonim dan antonim;
- analogi kata;
- pemahaman bacaan;
- hubungan antarkata;
- penalaran verbal.
Bagian ini tidak hanya mengandalkan banyaknya kosakata, tetapi juga kemampuan memahami konteks.
Tes Logika dan Penalaran
Tes logika digunakan untuk melihat kemampuan peserta menganalisis informasi dan menemukan hubungan tertentu. Bentuknya bisa berupa:
- pola gambar;
- deret simbol;
- silogisme;
- logika pernyataan;
- penalaran induktif atau deduktif.
Asesmen kerja modern juga banyak menggunakan kemampuan numerical, deductive, dan inductive reasoning sebagai bagian dari pengukuran kemampuan kognitif.
Tes Ketelitian dan Konsentrasi
Pada bagian ini peserta dituntut bekerja cepat sambil menjaga akurasi. Salah satu bentuk yang cukup dikenal adalah tes Kraepelin atau Pauli, yang menggunakan deretan angka untuk dikerjakan dalam batas waktu tertentu.
Jenis tes ini dapat menuntut konsentrasi dalam waktu relatif panjang sehingga kesalahan kecil perlu diperhatikan.
Tes Kepribadian
Tes kepribadian digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai gaya perilaku atau karakteristik kandidat dalam konteks pekerjaan. Formatnya biasanya berupa pernyataan yang perlu dipilih atau dinilai berdasarkan kondisi diri.
Beberapa perusahaan menggunakan instrumen kepribadian yang berbeda-beda. SHL, misalnya, memiliki Occupational Personality Questionnaire yang dirancang untuk mengukur gaya perilaku seseorang di lingkungan kerja.
Tes Wartegg dan Tes Gambar
Pada beberapa proses rekrutmen, peserta juga dapat menemukan Tes Wartegg. Tes ini menggunakan delapan kotak dengan stimulus tertentu yang kemudian dilanjutkan menjadi gambar.
Selain Wartegg, beberapa seleksi juga menggunakan tes gambar seperti menggambar orang atau bentuk lainnya. Namun, jenis ini tidak selalu muncul di setiap perusahaan, sehingga peserta tetap perlu mengikuti instruksi yang diberikan saat tes.
Jadi, materi yang biasanya muncul saat psikotes kerja dapat mencakup numerik, verbal, logika, ketelitian, kepribadian, Kraepelin/Pauli, hingga Wartegg atau tes gambar. Susunan dan jumlah tesnya dapat berbeda-beda tergantung perusahaan dan posisi yang dilamar.
Jenis-Jenis Psikotes Kerja
Jenis psikotes kerja yang digunakan dalam proses rekrutmen dapat berbeda-beda pada setiap perusahaan. Pemilihannya biasanya disesuaikan dengan posisi, kompetensi yang ingin diukur, serta metode asesmen yang digunakan. Namun, beberapa jenis tes berikut cukup sering ditemukan dalam seleksi kerja.
Tes Numerik
Tes numerik mengukur kemampuan peserta dalam memahami angka dan melakukan penalaran matematis. Bentuk soalnya dapat berupa deret angka, aritmetika dasar, persentase, perbandingan, hingga soal cerita sederhana. Peserta perlu memperhatikan pola sekaligus menjaga ketelitian dalam perhitungan.
Tes Verbal
Tes verbal berkaitan dengan kemampuan memahami kata, kalimat, dan hubungan makna. Soalnya dapat berupa sinonim, antonim, analogi kata, pemahaman bacaan, atau penalaran berdasarkan informasi tertulis.
Tes Logika dan Penalaran
Jenis psikotes ini mengukur kemampuan menganalisis pola dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia. Peserta dapat menemukan deret gambar, pola simbol, silogisme, hingga soal penalaran induktif dan deduktif.
Tes Kraepelin atau Pauli
Tes Kraepelin dan Pauli menggunakan deretan angka yang perlu dihitung dalam batas waktu tertentu. Peserta melakukan penjumlahan secara berulang sehingga tes ini menuntut konsentrasi, ketelitian, serta kemampuan mempertahankan ritme kerja.
Tes Kepribadian
Tes kepribadian biasanya berisi sejumlah pernyataan mengenai perilaku, preferensi, atau respons seseorang terhadap situasi tertentu. Tidak seperti soal numerik atau verbal, jenis tes ini umumnya tidak memiliki satu jawaban benar yang berlaku untuk semua peserta. Jawaban digunakan sebagai bagian dari gambaran karakteristik kandidat dalam konteks pekerjaan.
Tes Wartegg dan Tes Gambar
Tes Wartegg menggunakan beberapa kotak berisi stimulus sederhana yang perlu dikembangkan menjadi gambar. Pada beberapa proses seleksi, peserta juga dapat menemukan tugas menggambar orang, pohon, atau bentuk lainnya.
Jenis psikotes yang diberikan tidak selalu sama pada setiap perusahaan. Dalam satu rangkaian seleksi, peserta bisa mendapatkan kombinasi tes numerik, verbal, logika, ketelitian, kepribadian, Kraepelin/Pauli, maupun tes gambar sesuai kebutuhan rekrutmen.
Baca juga: Jangan Sampai Gagal ! Psikotes PT Biasanya Apa Saja ? Ini Jawaban Lengkapnya
Mini FAQ
Apa tujuan latihan psikotes kerja?
Latihan bertujuan membiasakan peserta dengan bentuk soal, membantu memahami pola, meningkatkan ketelitian, dan melatih pengaturan waktu. Latihan juga dapat menunjukkan jenis soal yang masih menjadi kelemahan.
Apakah psikotes kerja selalu berisi soal matematika?
Tidak. Psikotes dapat mencakup kemampuan verbal, numerik, logika, spasial, ketelitian, dan kepribadian. Jenis tes yang digunakan dapat berbeda sesuai perusahaan dan posisi yang dilamar.
Apakah jawaban psikotes bisa dihafalkan?
Sebaiknya tidak. Lebih penting memahami pola penyelesaian karena angka, kata, gambar, maupun susunan pertanyaan dapat berubah.
Berapa lama sebaiknya latihan psikotes kerja?
Tidak ada durasi yang wajib untuk semua orang. Yang lebih penting adalah konsistensi. Mulailah dengan sesi yang mampu dilakukan secara rutin, kemudian tambahkan jumlah soal dan penggunaan timer secara bertahap.
Apakah latihan online cukup untuk persiapan psikotes?
Latihan online dapat membantu membiasakan diri dengan format soal dan batas waktu. Namun, tetap perhatikan petunjuk resmi dari perusahaan karena sistem dan jenis tes yang digunakan dapat berbeda.
Apakah hasil psikotes menentukan seseorang pasti diterima kerja?
Tidak selalu. Psikotes merupakan salah satu bagian dari proses seleksi. Keputusan akhir dapat mempertimbangkan berbagai tahapan lain sesuai sistem rekrutmen perusahaan.
Kesimpulan
Latihan psikotes kerja bukan sekadar kegiatan mengerjakan banyak soal sebelum mengikuti seleksi. Latihan yang baik membantu peserta memahami karakter setiap jenis tes, mengenali pola, meningkatkan ketelitian, mengatur waktu, dan membangun kesiapan ketika menghadapi pertanyaan yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Materi yang dapat dipelajari cukup luas, mulai dari numerik, verbal, logika dan penalaran, gambar atau spasial, ketelitian, hingga kepribadian. Tidak semua perusahaan menggunakan seluruh jenis tersebut, sehingga contoh soal di internet sebaiknya dipakai sebagai bahan latihan dan pengenalan pola, bukan dianggap sebagai daftar soal yang pasti keluar.
Agar hasil latihan semakin maksimal, lakukan persiapan secara bertahap. Mulai dari memahami konsep, mengerjakan soal tanpa tekanan waktu, mencatat kesalahan, kemudian menggunakan timer dan melakukan simulasi. Dengan pola belajar seperti ini, kamu tidak hanya menghafal jawaban, tetapi benar-benar terbiasa berpikir dan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan soal psikotes kerja.


