Tes Hitungan Koran: Cara Mengerjakan, Tujuan Penilaian, dan Tips agar Cepat serta Teliti

tes hitungan koran

Menghadapi psikotes kerja tidak selalu membutuhkan soal matematika yang rumit. Salah satu tes yang membutuhkan konsentrasi tinggi adalah tes hitungan koran, yaitu tes dengan deretan angka yang harus dihitung berulang sesuai instruksi dan batas waktu. Tes ini umumnya dikenal melalui bentuk Pauli dan Kraepelin yang memiliki aturan pengerjaan berbeda.

Tantangan utama tes hitungan koran bukan hanya kemampuan menghitung, tetapi juga menjaga kecepatan, ketelitian, konsentrasi, dan kestabilan ritme selama tes. Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan dengan memahami aturan tes dan berlatih menghitung secara konsisten agar mampu mengikuti instruksi hingga selesai.

Mengenal Tes Hitungan Koran dalam Psikotes Kerja

Tes hitungan koran merupakan istilah populer untuk psikotes yang menggunakan deretan angka dalam jumlah banyak. Disebut “koran” karena tampilan lembar tes dipenuhi lajur angka sehingga secara visual menyerupai halaman surat kabar.

Pada bentuk yang umum dikenal, peserta harus menjumlahkan dua angka yang berdekatan. Jika hasil penjumlahannya terdiri dari dua digit, biasanya hanya angka satuannya yang ditulis.

Contohnya:

8 + 7 = 15

Angka yang ditulis adalah:

5

Walaupun perhitungannya sederhana, jumlah operasi yang harus dilakukan berulang kali membuat tes membutuhkan fokus dan daya tahan yang baik.

Jobstreet menjelaskan bahwa tes koran digunakan untuk melihat aspek seperti konsentrasi, kecepatan, ketelitian, serta kemampuan mempertahankan performa ketika menghadapi informasi berulang dan tekanan waktu.

Baca juga: Soal Analogi Verbal Hubungan Kata Psikotes Kerja Beserta Tips Menjawabnya

Apa yang Diukur dalam Tes Hitungan Koran

Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap tes ini sebagai ujian kemampuan matematika.

Padahal, penjumlahan hanya menjadi media untuk melihat bagaimana peserta bekerja dalam tugas yang berulang dan membutuhkan konsentrasi. DetikEdu juga menjelaskan bahwa tujuan tes koran bukan semata-mata mengukur kemampuan matematika.

Beberapa aspek yang dapat terlihat dari proses pengerjaan meliputi:

  • ketelitian;
  • konsentrasi;
  • kecepatan bekerja;
  • kestabilan ritme;
  • daya tahan ketika mengerjakan tugas repetitif;
  • kemampuan mempertahankan fokus di bawah tekanan waktu.

Karena itu, peserta yang sangat cepat belum tentu memperoleh hasil yang baik jika terlalu banyak membuat kesalahan.

Sebaliknya, mengerjakan terlalu lambat dengan akurasi tinggi juga belum tentu menunjukkan pola kerja yang optimal. Hal yang perlu dilatih adalah keseimbangan antara kecepatan dan ketelitian.

Perbedaan Tes Pauli dan Kraepelin

Istilah tes koran, Pauli, dan Kraepelin sering dianggap sama. Padahal, cara pelaksanaannya memiliki sejumlah perbedaan.

AspekTes PauliTes Kraepelin
BentukDeretan angka dalam lembar besarDeretan angka dalam sejumlah kolom
Arah pengerjaanUmumnya dari atas ke bawahUmumnya dari bawah ke atas
Instruksi waktuPeserta memberi tanda ketika mendapat instruksi tertentuPeserta berpindah kolom ketika mendapat aba-aba
Prinsip utamaPenjumlahan angka berdekatanPenjumlahan angka berdekatan

Sumber yang membahas perbedaan Pauli dan Kraepelin menjelaskan bahwa Kraepelin umumnya dikerjakan dari bawah ke atas dan peserta berpindah kolom ketika mendapat instruksi. Sementara itu, Pauli dikerjakan dari atas ke bawah dengan mekanisme penandaan tertentu selama pengerjaan.

Namun, saat mengikuti psikotes, jangan hanya mengandalkan pola latihan yang pernah dikerjakan. Selalu ikuti instruksi pengawas karena prosedur yang digunakan penyelenggara dapat berbeda.

Baca juga: Strategi Menghadapi Tes Psikotes Numerik

Cara Mengerjakan Tes Hitungan Koran

Secara sederhana, kamu perlu menjumlahkan dua angka yang berdekatan.

Misalnya terdapat susunan:

7
4
8
6
9

Pengerjaannya:

7 + 4 = 11 → tulis 1
4 + 8 = 12 → tulis 2
8 + 6 = 14 → tulis 4
6 + 9 = 15 → tulis 5

Dengan demikian, hasil yang ditulis adalah:

1 – 2 – 4 – 5

Jika hasil penjumlahan mencapai dua digit, angka puluhan tidak dituliskan. DetikEdu memberi contoh 8 + 8 = 16, sehingga angka yang dicatat hanya 6.

Mekanismenya memang sederhana. Namun, ketika pola tersebut harus dilakukan pada banyak angka dalam waktu terbatas, konsentrasi menjadi jauh lebih penting.

Contoh Sederhana Tes Hitungan Koran

Coba gunakan deretan berikut sebagai latihan:

9 – 4 – 7 – 5 – 8 – 6

Jika instruksinya adalah menjumlahkan angka yang berdekatan dan hanya menuliskan angka satuan, hasilnya:

Pasangan AngkaHasilDitulis
9 + 4133
4 + 7111
7 + 5122
5 + 8133
8 + 6144

Jadi, urutan jawaban yang ditulis adalah:

3 – 1 – 2 – 3 – 4

Latihan awal seperti ini sebaiknya dilakukan tanpa terlalu mengejar kecepatan. Pastikan terlebih dahulu bahwa mekanisme penjumlahan sudah benar.

Setelah itu, barulah gunakan timer untuk meningkatkan kecepatan secara bertahap.

Apa Saja yang Perlu Dilatih

Persiapan tes hitungan koran berbeda dari latihan soal matematika biasa.

Kecepatan Penjumlahan Sederhana

Biasakan melakukan penjumlahan satu digit dengan cepat.

Semakin otomatis kemampuan berhitung dasar, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memikirkan setiap pasangan angka.

Ketelitian Membaca Angka

Deretan angka yang panjang membuat peserta mudah salah melihat posisi.

Karena itu, jangan hanya mempercepat hitungan. Latih juga kemampuan mempertahankan posisi agar tidak melompat atau mengulang angka.

Ritme yang Stabil

Memulai dengan kecepatan sangat tinggi kemudian melambat drastis bukanlah pola latihan yang ideal.

Lebih baik tentukan ritme yang mampu dipertahankan. Sumber yang membahas tes koran juga menyarankan peserta menjaga jumlah pengerjaan antarkolom tetap stabil dan tidak menghabiskan seluruh tenaga di awal.

Konsentrasi dalam Durasi Lebih Panjang

Latihan beberapa detik belum cukup menggambarkan kondisi sebenarnya.

Jobstreet mencatat bahwa durasi tes koran dapat berbeda-beda, mulai dari sekitar 10–15 menit hingga mencapai 60 menit tergantung jenis dan penyelenggara tes.

Oleh sebab itu, tingkatkan durasi latihan secara bertahap agar konsentrasi tidak mudah turun.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Tes

Beberapa kesalahan sederhana dapat membuat ritme pengerjaan terganggu.

Terlalu Cepat Sejak Awal

Peserta sering ingin mendapatkan hasil sebanyak mungkin sehingga bekerja terlalu cepat pada beberapa menit pertama.

Akibatnya, konsentrasi dan kecepatan dapat menurun ketika tes masih berlangsung.

Mengejar Kecepatan tetapi Mengabaikan Ketelitian

Cepat tidak selalu berarti efektif.

Jika terlalu banyak jawaban salah, peningkatan jumlah pengerjaan tidak memberikan gambaran performa yang baik. Oleh karena itu, kecepatan perlu dikembangkan bersama akurasi.

Kehilangan Posisi Angka

Kesalahan membaca baris atau kolom dapat membuat perhitungan berikutnya ikut salah.

Karena itu, fokuskan pandangan pada area yang sedang dikerjakan dan jangan terlalu sering melihat ke bagian lain.

Tidak Mendengarkan Instruksi

Pada tes Kraepelin dan Pauli, instruksi pengawas sangat penting karena dapat menentukan kapan peserta berpindah atau memberikan tanda.

Pastikan seluruh petunjuk dipahami sebelum tes dimulai.

Baca juga: Tips Mengasah Kecepatan dan Akurasi Psikotes

Tips Menjaga Kecepatan dan Ketelitian

Jangan langsung menjadikan kecepatan sebagai target utama ketika baru mulai berlatih.

Pertama, kerjakan penjumlahan dengan benar. Setelah tingkat kesalahan mulai menurun, tambahkan batas waktu.

Selanjutnya, catat hasil setiap sesi latihan. Perhatikan:

  • jumlah operasi yang selesai;
  • jumlah kesalahan;
  • bagian ketika kecepatan mulai turun;
  • kemampuan mempertahankan konsentrasi.

Dengan catatan tersebut, kamu dapat mengetahui apakah latihan benar-benar menghasilkan perkembangan.

Selain itu, hindari mengejar “jumlah ideal” yang beredar di internet. Hasil tes psikologi tidak sebaiknya disimpulkan hanya berdasarkan satu angka atau target pengerjaan tanpa memahami sistem penilaian yang digunakan penyelenggara.

Kondisi fisik juga perlu diperhatikan. Istirahat yang cukup dan kondisi tubuh yang baik membantu menjaga konsentrasi selama pengerjaan.

Baca juga: Persiapan Psikotes Kerja agar Lebih Siap Menghadapi Seleksi

Apakah Tes Hitungan Koran Selalu Ada dalam Seleksi Kerja

Tidak.

Meskipun tes koran cukup dikenal dalam proses psikotes kerja, tidak semua perusahaan menggunakan alat tes yang sama.

Jenis psikotes dapat disesuaikan dengan:

  • posisi yang dilamar;
  • kebutuhan perusahaan;
  • metode asesmen;
  • penyelenggara psikotes;
  • kompetensi yang ingin dinilai.

Karena itu, hindari menganggap Pauli atau Kraepelin pasti muncul pada setiap proses rekrutmen.

Jika undangan seleksi hanya menyebut “psikotes”, persiapkan beberapa jenis latihan secara seimbang dan gunakan petunjuk resmi perusahaan sebagai acuan utama.

Mini FAQ

Apa yang dimaksud tes hitungan koran?

Tes hitungan koran adalah istilah yang umum digunakan untuk psikotes dengan banyak deretan angka yang dikerjakan melalui operasi sederhana secara berulang. Bentuk yang terkenal adalah Pauli dan Kraepelin.

Apakah tes hitungan koran menguji kemampuan matematika?

Bukan semata-mata kemampuan matematika. Perhitungannya relatif sederhana, sedangkan proses pengerjaannya digunakan untuk melihat aspek seperti konsentrasi, ketelitian, kecepatan, dan daya tahan kerja.

Berapa lama tes hitungan koran?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk seluruh tes. Jobstreet menyebut durasinya dapat berkisar dari sekitar 10–15 menit sampai 60 menit, tergantung jenis dan pelaksanaannya.

Apa perbedaan Pauli dan Kraepelin?

Keduanya menggunakan penjumlahan angka berdekatan, tetapi memiliki perbedaan pada arah pengerjaan, format lembar, serta instruksi perpindahan atau penandaan selama tes.

Bagaimana agar lebih cepat mengerjakan tes koran?

Mulailah dengan membangun akurasi, kemudian gunakan timer secara bertahap. Latih penjumlahan sederhana, jaga posisi pengerjaan, dan usahakan ritme tetap stabil dari awal sampai akhir.

Kesimpulan

Tes hitungan koran bukan sekadar soal berhitung cepat, tetapi juga menguji konsentrasi, ketelitian, kecepatan, dan kestabilan dalam mengerjakan deretan angka. Bentuk yang umum dikenal adalah tes Pauli dan Kraepelin, yang sama-sama menggunakan penjumlahan sederhana dengan aturan pengerjaan tertentu.

Persiapannya dapat dimulai dari latihan penjumlahan dasar, lalu meningkatkan kecepatan dan durasi secara bertahap. Saat tes berlangsung, ikuti instruksi dengan teliti dan jaga ritme agar tetap stabil tanpa mengorbankan ketelitian.

Bagikan :

Artikel Terbaru Lainnya :