Soal Warteg Psikotes – sering kali jadi momok buat para pencari kerja yang sudah berkali-kali ikut rekrutmen, tapi selalu mentok di tahap psikotes. Di satu sisi, kamu merasa sudah mengerjakan dengan “benar”, menggambar sebaik mungkin, dan mengikuti berbagai tips di internet. Namun di sisi lain, hasil seleksi tetap berkata lain. Di tengah persaingan kerja yang makin ketat, memahami cara kerja dan makna di balik soal warteg psikotes bisa jadi pembeda antara kamu yang terus terjebak di tahap psikotes dan kamu yang akhirnya lolos ke tahap interview atau bahkan diterima kerja.
Padahal, tes ini bukan soal pintar atau bodoh, bukan juga soal “punya bakat gambar” atau tidak. Tes Wartegg (yang sering disingkat jadi “warteg” dalam dunia psikotes Indonesia) lebih fokus pada kecocokan kepribadian dengan kebutuhan perusahaan. Artinya, kalau kamu tahu apa yang diukur, bagaimana cara mengerjakannya dengan tenang, dan bagaimana membangun mindset yang tepat, peluangmu untuk lolos akan jauh lebih besar—tanpa harus memalsukan diri.
Di artikel ini, kita akan membahas tuntas soal warteg psikotes: mulai dari pengertian, sejarah singkat, cara mengerjakan, apa saja yang diamati psikolog, sampai tips praktis dan cara mengelola kecemasan sebelum tes. Semua akan dijelaskan dengan bahasa ringan, tapi tetap akurat dan relevan dengan realitas pencari kerja saat ini.
Apa Itu Soal Warteg Psikotes dan Kenapa Sering Muncul di Tes Kerja?

Sebelum membahas trik dan tips, penting untuk benar-benar paham dulu: sebenarnya apa sih soal warteg psikotes itu?
Dalam dunia psikologi, tes ini dikenal sebagai Tes Wartegg. Nama “Wartegg” diambil dari pengembangnya, seorang psikolog Austria-Jerman bernama Ehrig Wartegg yang mengembangkan tes ini sekitar tahun 1939. Tes ini berbasis teori Gestalt, yaitu teori yang menyatakan bahwa cara kita melihat dan melengkapi suatu bentuk atau pola akan mencerminkan cara kita memaknai pengalaman, mengelola emosi, dan menyusun dunia di dalam pikiran kita.
Di Indonesia, terutama dalam konteks rekrutmen kerja, tes ini sering disebut secara informal sebagai soal warteg psikotes. Bukan karena ada hubungannya dengan warung tegal, tapi karena pelafalan “Wartegg” yang terdengar mirip “warteg”.
Tes Wartegg termasuk dalam kategori tes proyektif. Artinya, ketika kamu diminta melengkapi gambar yang belum jadi, sebenarnya kamu sedang “memproyeksikan” isi kepribadian, emosi, dan cara berpikirmu ke dalam gambar tersebut. Tidak ada jawaban benar atau salah, tapi ada pola-pola yang akan dibaca oleh psikolog.
Mengapa perusahaan suka memakai soal warteg psikotes?
- Melihat kecocokan kepribadian dengan posisi yang dilamar.
- Mengurangi risiko turnover (karyawan cepat resign karena tidak cocok).
- Menilai cara berpikir, kreativitas, stabilitas emosi, dan cara menghadapi masalah.
- Mendapat gambaran lebih dalam tentang potensi kerja, bukan hanya nilai akademik.
Jadi, kalau selama ini kamu menganggap soal warteg psikotes hanya “tes gambar iseng”, mungkin ini saatnya mengubah cara pandang. Tes ini cukup serius, tapi bukan berarti harus ditakuti. Justru, semakin kamu paham, semakin tenang kamu mengerjakannya.
Format, Makna 8 Kotak, dan Cara Penilaiannya

Secara teknis, soal warteg psikotes terdiri dari 8 kotak kecil yang disusun dalam 2 baris x 4 kolom. Setiap kotak sudah berisi stimulus sederhana berupa:
- Garis pendek (horizontal atau vertikal),
- Titik,
- Bentuk kecil (misalnya kotak kecil),
- Lengkungan,
- Atau coretan sederhana lainnya.
Tugasmu adalah melengkapi setiap stimulus menjadi gambar utuh sesuai imajinasimu. Misalnya:
- Sebuah garis lengkung bisa kamu kembangkan jadi pelangi.
- Sebuah titik bisa kamu kembangkan jadi matahari, bola, atau lampu.
- Sebuah garis vertikal bisa jadi tiang bendera, batang pohon, dan sebagainya.
Namun, ada beberapa aturan umum dalam mengerjakan soal warteg psikotes:
- Gambar harus dikembangkan dari stimulus yang sudah ada.
Jangan mengabaikan coretan awalnya. Justru, stimulus itu yang harus menjadi bagian penting dari gambar. - Gambar tidak boleh keluar dari kotak.
Ini menunjukkan kemampuanmu mengikuti aturan dan batasan. - Kamu diminta memberi nomor urut pengerjaan.
Biasanya, kamu diminta menuliskan urutan kotak mana yang kamu kerjakan duluan (1–8). Urutan ini juga akan dianalisis. - Kamu diminta menandai:
- Gambar yang paling mudah,
- Gambar yang paling sulit,
- Gambar yang paling disukai,
- Gambar yang paling tidak disukai,
lalu menjelaskan alasannya secara singkat.
- Tidak ada jawaban benar atau salah.
Yang dinilai adalah pola: cara kamu mengembangkan gambar, kerapian, tekanan garis, simbol yang dipilih, sampai alasan di balik pilihanmu.
Walaupun tampak sederhana, setiap kotak dalam soal warteg psikotes punya fokus aspek kepribadian yang berbeda. Dalam beberapa referensi, kotak-kotak ini sering disebut sebagai bidang A sampai H, masing-masing dengan makna tertentu:
- Kotak A – Basis Ego
Berkaitan dengan identitas diri, asal, konsentrasi, dan citra diri. Cara kamu mengembangkan stimulus di kotak ini bisa menggambarkan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri, seberapa fokus, dan seberapa stabil gambaran dirimu. - Kotak B – Fleksibilitas dan Sosial
Menggambarkan keaktifan sosial dan ekspresi emosi. Apakah kamu cenderung terbuka, hangat, atau justru tertutup dan kaku. - Kotak C – Ambisi dan Tujuan
Berkaitan dengan pencapaian, ketekunan, dan cara kamu mengejar target. Gambar yang terstruktur dan jelas bisa menunjukkan kecenderungan bekerja sistematis. - Kotak D – Masalah dan Beban
Menggambarkan cara kamu menghadapi kesulitan, tekanan, dan beban kerja. Apakah kamu menghindar, menghadapi, atau malah cenderung kewalahan. - Kotak E – Ketegangan dan Agresi
Berkaitan dengan dorongan pencapaian, oposisi, dan agresi. Bukan agresi fisik semata, tapi juga seberapa kuat kamu mendorong diri untuk maju. - Kotak F – Integrasi dan Penyelesaian Konflik
Menggambarkan kemampuan menyatukan perbedaan, kompromi, dan menyelesaikan konflik. - Kotak G – Kelembutan dan Kepekaan
Berkaitan dengan keramahan, empati, dan ekspresi halus. Misalnya, apakah kamu peka terhadap orang lain atau cenderung cuek. - Kotak H – Perlindungan dan Rasa Aman
Menggambarkan mekanisme bela diri, kebutuhan akan keamanan, dan cara kamu melindungi diri.
Psikolog akan melihat kombinasi dari semua gambar, bukan hanya satu kotak saja. Yang penting adalah konsistensi dan keseimbangan gambarmu secara keseluruhan.
Dalam penilaian, mereka tidak hanya melihat “bagus atau jelek” gambarmu, tetapi juga:
- Bentuk dan isi gambar: realistis atau abstrak, cenderung positif atau negatif, terlalu sederhana atau terlalu rumit.
- Kerapian dan keteraturan: rapi, proporsional, atau justru berantakan dan tergesa-gesa.
- Tekanan garis dan gaya menggambar: garis terlalu tebal dan menekan, terlalu tipis dan ragu, atau stabil dan konsisten.
- Urutan pengerjaan: kotak mana yang kamu kerjakan duluan dan bagaimana itu mencerminkan prioritas alam bawah sadar.
- Kotak yang disukai/tidak disukai, mudah/sulit: area hidup atau aspek kepribadian yang terasa nyaman atau dihindari.
- Alasan di balik pilihanmu: sejauh mana kamu jujur, konsisten, dan logis dalam menjelaskan alasan.
Hasil tes Wartegg jarang sekali berdiri sendiri. Biasanya ia digabung dengan tes lain dan wawancara, jadi satu gambar yang menurutmu “kurang bagus” tidak otomatis menggagalkanmu.
Cara Menghadapi Soal Warteg Psikotes dengan Tenang dan Strategis

Kamu mungkin sudah sering melihat contoh lembar tes: delapan kotak dengan titik, garis lengkung, garis vertikal, atau kotak kecil di dalamnya. Alih-alih menghafal “harus gambar apa di setiap kotak”, lebih bermanfaat kalau kamu memahami beberapa prinsip praktis:
- Kembangkan gambar yang logis dan fungsional.
Titik bisa jadi matahari, bola, atau lampu; garis vertikal bisa jadi tiang, batang pohon, atau gedung. Gambar yang punya fungsi jelas biasanya lebih mudah dibaca sebagai kepribadian yang terarah. - Hindari gambar yang terlalu ekstrem.
Misalnya, gambar yang terlalu gelap, penuh simbol kekerasan, atau terlalu absurd tanpa makna. Ini bukan dilarang, tapi berpotensi menimbulkan interpretasi kurang menguntungkan. - Jaga kerapian dan proporsi.
Tidak harus indah seperti ilustrator profesional, yang penting:- Tidak keluar kotak,
- Tidak terlalu menumpuk garis,
- Tidak terlalu kosong.
- Kelola waktu.
Jangan terlalu lama di satu kotak. Lebih baik “cukup bagus di semua kotak” daripada sempurna di satu tapi tergesa-gesa di yang lain. - Tulis alasan yang jujur dan sederhana.
Saat menjelaskan mengapa suatu kotak mudah/sulit atau disukai/tidak disukai, gunakan alasan yang singkat dan masuk akal, misalnya: “Mudah karena bentuknya sederhana dan cepat terbayang jadi pemandangan.”
Di sisi lain, faktor yang paling sering menjatuhkan peserta justru adalah kepanikan. Begitu melihat kertas berisi kotak-kotak kosong, muncul pikiran seperti:
- “Kalau aku gambar ini, nanti dikira apa?”
- “Kalau gambarku jelek, nanti gagal?”
- “Harusnya gambar apa sih biar kelihatan profesional?”
Agar itu tidak mengganggu, kamu bisa membangun beberapa pola pikir berikut:
- Ini bukan tes seni rupa.
Yang dinilai adalah cara berpikir dan kepribadianmu. Gambar sederhana seperti stickman pun tidak masalah, selama jelas, rapi, dan logis. - Tidak ada jawaban tunggal yang “paling benar”.
Setiap orang bisa menggambar hal yang berbeda dari stimulus yang sama. - Tes ini soal kecocokan, bukan nilai 100 atau 0.
Bisa saja kamu kurang cocok di satu perusahaan, tetapi sangat cocok di perusahaan lain. - Tujuannya bukan memalsukan diri, tapi menampilkan versi terbaik diri.
Tetap jujur, tapi juga berusaha tenang, teratur, dan tidak berlebihan.
Kondisi mental dan fisik sebelum tes juga sangat berpengaruh. Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:
- Malam sebelum tes:
- Hindari begadang untuk “menghafal” contoh gambar.
- Fokus pada tidur cukup dan menjaga energi.
- Kalau mau latihan, lakukan sehari atau beberapa hari sebelumnya.
- Sesaat sebelum tes:
- Lakukan latihan napas 4–4–4–4 (box breathing) beberapa kali.
- Gunakan self-talk positif sederhana, seperti “Tugas aku cuma mengerjakan sebaik yang aku bisa.”
- Saat mengerjakan:
- Kalau buntu di satu kotak, lompat dulu ke kotak lain.
- Terima bahwa mungkin ada satu-dua gambar yang tidak sempurna; fokus pada keseluruhan.
Untuk menyiapkan diri dengan lebih terarah, kamu juga bisa:
- Mencari dan melatih diri dengan berbagai contoh lembar tes Wartegg.
- Mencoba mengembangkan stimulus yang sama menjadi beberapa gambar berbeda, agar ide lebih fleksibel.
- Mengikuti bimbingan belajar psikotes atau tryout online, supaya terbiasa dengan format dan mendapatkan umpan balik.
Pada akhirnya, soal warteg psikotes bukanlah tembok yang tidak bisa ditembus, melainkan gerbang untuk menunjukkan siapa dirimu dan seberapa siap kamu bekerja di lingkungan profesional. Semakin kamu memahami cara kerjanya, semakin kamu melatih diri, dan semakin kamu menata mindset dengan sehat, peluangmu untuk lolos akan jauh lebih besar. Psikotes bukan tentang pintar atau bodoh, tapi tentang fit: apakah kamu cocok dengan posisi dan budaya kerja yang ditawarkan. Tugasmu adalah menampilkan versi terbaik dirimu—tenang, jujur, dan terarah—lalu membiarkan proses seleksi menemukan tempat yang paling tepat untukmu.
Baca Juga: Apa Tujuan Utama dari Test Psikotes dalam Rekrutmen Kerja? Pahami Fungsi dan Manfaatnya bagi Perusahaan
Sumber Referensi
- CIMBNIAGA.CO.ID – Mengenal Tes Wartegg dalam Psikotes Kerja
- GRAMEDIA.COM – Contoh Tes Wartegg dan Penilaiannya
- GLINTS.COM – Tes Wartegg: Pengertian, Contoh, dan Cara Mengerjakannya
- KITALULUS.COM – Contoh Gambar Tes Wartegg dan Cara Mengerjakannya
- DEALLS.COM – Tes Wartegg: Pengertian, Tujuan, dan Cara Mengerjakannya
- SCRIBD.COM – Soal Psikotes PDF Wartegg
Program Premium Psikotes Kerja 2025
“Kami Bantu, Kami Pandu, Kami Bimbing Sampai Amazing!” 🌟
📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi Psikotes Kerja: Temukan aplikasi Psikotes Kerja di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun Psikotes Kerja Anda melalui aplikasi atau situs web.


