Location

Kuta, Bali 80225

Call Us

+6281 245 7652

Follow us :

Deret angka psikotes sering jadi momok buat banyak pencari kerja. Begitu lembar soal dibuka dan muncul deretan angka panjang seperti “100, 99, 96, 91, 84, 75, …”, banyak yang langsung blank, panik, dan merasa “kayaknya gue emang nggak pinter matematika deh”. Padahal, deret angka psikotes bukan sekadar soal hitung-hitungan rumit, melainkan cara perusahaan menilai cara kamu berpikir: apakah kamu teliti, tahan tekanan, dan bisa melihat pola dengan cepat. Di tengah persaingan kerja yang makin ketat, terutama untuk seleksi kerja, CPNS, atau masuk perguruan tinggi, kemampuan mengerjakan deret angka psikotes dengan tenang dan terstruktur bisa jadi pembeda besar antara kamu dan kandidat lain.

Di artikel ini, kita akan kupas tuntas apa itu deret angka psikotes, kenapa tes ini sering bikin cemas, dan yang paling penting: bagaimana cara menghadapinya dengan kepala dingin, langkah logis, dan mindset yang sehat. Kamu juga akan melihat bahwa tes ini bukan penentu kamu pintar atau bodoh, tapi lebih ke soal kecocokan dan kesiapan mental. Jadi, kalau kamu pernah gagal psikotes sebelumnya, artikel ini dirancang untuk menenangkan, membimbing, dan membantu kamu bangkit lagi dengan strategi yang jauh lebih matang.

Baca Juga : Apa Saja Soal Tes Psikotes ? Panduan Lengkap & Strategi Menghadapi

Apa Itu Deret Angka Psikotes dan Kenapa Sering Bikin Takut?

Deret angka psikotes adalah salah satu jenis tes numerik dalam psikotes yang meminta kamu menemukan pola di antara angka-angka, lalu melengkapi angka yang hilang. Bentuknya bisa berupa deret angka mendatar (horizontal) dengan satu atau beberapa suku yang kosong, atau deret angka vertikal seperti pada tes Kraepelin. Di permukaan, deret angka psikotes terlihat seperti soal matematika biasa, tetapi sebenarnya tes ini mengukur lebih dari sekadar kemampuan berhitung.

Secara umum, deret angka psikotes digunakan untuk menilai:

Itulah mengapa deret angka psikotes sering muncul dalam seleksi kerja, tes masuk perusahaan besar, SKD CPNS, hingga seleksi akademik. Perusahaan ingin melihat bagaimana kamu memproses informasi angka dengan cepat dan akurat, karena di dunia kerja, kemampuan ini berkaitan dengan analisis data, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.

Namun, di sisi lain, banyak pencaker merasa terintimidasi oleh deret angka psikotes karena beberapa alasan:

  1. Trauma dengan matematika di sekolah
    Banyak orang punya pengalaman kurang menyenangkan dengan pelajaran matematika, sehingga begitu melihat angka-angka berderet, otak langsung menolak sebelum sempat mencoba.
  2. Tekanan waktu yang ketat
    Dalam psikotes, kamu biasanya diberi waktu sangat terbatas dengan jumlah soal yang banyak. Ini membuat otak mudah panik dan sulit fokus, padahal sebenarnya polanya tidak selalu serumit yang dibayangkan.
  3. Anggapan bahwa hasil psikotes = nilai diri
    Banyak yang merasa, “Kalau gagal psikotes, berarti aku bodoh.” Padahal, psikotes—termasuk deret angka psikotes—lebih menilai kecocokan pola pikir dengan kebutuhan posisi, bukan nilai mutlak kecerdasanmu sebagai manusia.
  4. Kurang latihan dan tidak tahu strategi
    Tanpa tahu cara sistematis membaca pola deret angka psikotes, soal-soal ini akan terasa seperti teka-teki acak. Padahal, ada langkah-langkah sederhana yang bisa dilatih.

Kabar baiknya, semua ketakutan ini bisa dikurangi secara signifikan dengan dua hal: pemahaman konsep dan mindset yang lebih sehat. Kita akan bahas keduanya secara bertahap.

Jenis-Jenis Deret Angka Psikotes yang Paling Sering Muncul

deret angka psikotes

Agar kamu tidak kaget saat menghadapi deret angka psikotes, penting untuk mengenali jenis-jenis pola yang umum digunakan. Dengan begitu, saat melihat soal, otakmu langsung punya “database” pola yang bisa dicocokkan.

1. Deret Pola Sederhana: Tambah, Kurang, Kali, Bagi

Ini adalah bentuk deret angka psikotes yang paling dasar. Kamu diberi deret angka mendatar, lalu diminta mengisi angka berikutnya berdasarkan pola tertentu. Polanya biasanya menggunakan operasi matematika dasar: penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian.

Contoh 1:
2, 4, 6, 8, 10, …, …

Jika kamu perhatikan, setiap angka bertambah 2.
Pola: +2 setiap suku.
Jawaban: 12, 14.

Contoh 2:
7, 14, 28, 56, …

Di sini, setiap angka dikali 2.
Pola: ×2 setiap suku.
Jawaban: 112.

Contoh 3 (sedikit lebih menantang):
100, 99, 96, 91, 84, 75, …

Kalau kamu hanya melihat sekilas, mungkin terasa acak. Tapi coba lihat selisih antarangka:

Ternyata, pengurangannya membentuk pola: -1, -3, -5, -7, -9 (bilangan ganjil berurutan).
Berarti pengurangan berikutnya adalah -11.
75 – 11 = 64.
Jadi jawabannya: 64.

Dari contoh-contoh ini, kamu bisa melihat bahwa deret angka psikotes tidak selalu soal hitungan rumit, tapi lebih ke kemampuan melihat pola perubahan antarangka.

2. Tes Kraepelin: Deret Angka Vertikal untuk Menguji Konsistensi

Selain deret mendatar, ada juga bentuk deret angka psikotes yang sangat terkenal: tes Kraepelin. Di sini, kamu akan melihat deret angka yang disusun secara vertikal dalam kolom panjang. Tugasmu adalah menjumlahkan dua angka yang berurutan dari atas ke bawah, lalu menuliskan hanya digit satuan dari hasil penjumlahan tersebut.

7
2
4
8
5
6

Cara mengerjakannya:

Yang menarik dari tes Kraepelin adalah: yang dinilai bukan hanya benar-salah hasilnya, tapi juga kecepatan, ketelitian, dan konsistensi performa kamu dari waktu ke waktu. Biasanya, lembar tes ini sangat panjang, dan kamu diminta mengerjakan dalam waktu tertentu per baris atau per kolom. Psikolog akan melihat:

Jadi, deret angka psikotes dalam bentuk Kraepelin ini lebih menguji daya tahan mental, fokus, dan kontrol emosional, bukan sekadar kemampuan berhitung cepat.

Apa Sebenarnya yang Diukur dari Deret Angka Psikotes?

deret angka psikotes

Supaya kamu tidak lagi melihat deret angka psikotes sebagai “hukuman matematika”, penting untuk memahami apa yang sebenarnya ingin dilihat perusahaan atau lembaga dari tes ini.

1. Kemampuan Analisis Pola dan Pemecahan Masalah

Saat mengerjakan deret angka psikotes, kamu dipaksa untuk:

Ini sangat mirip dengan situasi kerja nyata, di mana kamu harus menganalisis data, mencari akar masalah, dan menemukan solusi yang logis.

2. Kecerdasan Numerik dan Logika Matematika

Deret angka psikotes juga menjadi salah satu indikator kecerdasan numerik. Bukan berarti kamu harus jago kalkulus, tetapi:

Bagi posisi yang berkaitan dengan keuangan, data, analitik, atau perencanaan, kemampuan ini sangat penting.

3. Ketelitian dan Konsistensi di Bawah Tekanan

Karena deret angka psikotes biasanya diberikan dengan batas waktu ketat, tes ini juga mengukur:

Di dunia kerja, tekanan waktu dan target adalah hal yang biasa. Perusahaan ingin tahu apakah kamu bisa tetap rapi dan akurat meski dalam kondisi tersebut.

4. Kontrol Emosional dan Mindset

Ini bagian yang sering tidak disadari. Saat mengerjakan deret angka psikotes, terutama tes panjang seperti Kraepelin, kamu akan:

Di sinilah kontrol emosional diuji. Apakah kamu:

Jadi, deret angka psikotes bukan hanya soal angka, tapi juga soal bagaimana kamu mengelola dirimu sendiri dalam situasi menantang.

Salah satu hal paling penting sebelum membahas teknik mengerjakan deret angka psikotes adalah memperbaiki cara pandangmu terhadap psikotes itu sendiri. Banyak pencaker datang ke ruang tes dengan beban pikiran seperti:

Padahal, psikotes—termasuk deret angka psikotes—dirancang untuk menilai kecocokan (fit) antara kamu dan kebutuhan posisi atau organisasi, bukan untuk menghakimi nilai dirimu sebagai manusia.

Psikotes adalah alat seleksi, bukan vonis akhir tentang siapa dirimu dan seberapa berharganya kamu.

Beberapa hal yang perlu kamu tanamkan:

Dengan mindset seperti ini, kamu akan masuk ruang tes dengan lebih tenang. Dan ketenangan itu sendiri sudah menjadi modal besar untuk mengerjakan deret angka psikotes dengan lebih baik.

Sekarang kita masuk ke bagian teknis: bagaimana cara mengerjakan deret angka psikotes dengan lebih sistematis dan efisien. Anggap ini seperti “toolkit” yang bisa kamu bawa ke setiap tes.

1. Baca Deret dengan Tenang, Jangan Langsung Menghitung

Begitu melihat deret angka psikotes, tahan diri untuk tidak langsung menghitung. Luangkan beberapa detik untuk:

Langkah awal ini membantu otakmu memilih “jalur” analisis yang tepat: apakah kemungkinan besar ini pola penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau kombinasi.

2. Cek Selisih Antarangka (Kalau Deretnya Naik/Turun Pelan)

Jika angka naik atau turun secara bertahap, coba:

Contoh:
5, 8, 11, 14, 17, …

Selisihnya: +3, +3, +3, +3 → berarti polanya +3.
Angka berikutnya: 20.

Kalau selisihnya berubah, seperti contoh 100, 99, 96, 91, 84, 75, … tadi, cek apakah perubahan selisih itu sendiri punya pola (misalnya deret ganjil, genap, atau kelipatan tertentu).

3. Cek Perbandingan (Kalau Angka Berubah Drastis)

Jika angka melonjak besar (misalnya dari 3 ke 24, lalu ke 192), kemungkinan polanya perkalian atau pembagian. Coba:

Kalau tidak konsisten, bisa jadi polanya kombinasi, misalnya: ×2 lalu +1, atau ×3 lalu -2, dan seterusnya.

4. Verifikasi Pola di Seluruh Deret

Begitu kamu menemukan dugaan pola, jangan langsung isi jawaban. Uji dulu:

Kebiasaan memverifikasi ini akan mengurangi kesalahan ceroboh dan meningkatkan akurasi deret angka psikotes kamu.

5. Manajemen Waktu: Jangan Terjebak di Satu Soal

Dalam deret angka psikotes, waktu adalah musuh sekaligus teman. Kamu harus:

Ingat, tujuanmu bukan menjawab satu soal dengan sempurna, tapi mengumpulkan sebanyak mungkin jawaban benar dalam waktu terbatas.

6. Untuk Tes Kraepelin: Fokus pada Ritme, Bukan Kecepatan Maksimal

Pada deret angka psikotes jenis Kraepelin, kuncinya adalah ritme stabil:

Psikolog lebih suka grafik performa yang stabil daripada grafik yang sangat tinggi di awal lalu anjlok di tengah.

Sebagai jembatan, kalau kamu merasa butuh latihan terstruktur dan simulasi deret angka psikotes yang mirip kondisi asli, kamu bisa mempertimbangkan ikut bimbingan belajar online atau tryout psikotes yang menyediakan pembahasan langkah demi langkah, sehingga latihanmu lebih terarah dan tidak asal mengerjakan soal.


Sering kali, yang membuat deret angka psikotes terasa mustahil bukan karena soalnya terlalu sulit, tapi karena kita sudah panik duluan. Jadi, selain teknik mengerjakan, kamu juga perlu strategi menenangkan diri.

1. Latihan Napas Pendek Sebelum Tes

Sebelum deret angka psikotes dimulai (bahkan saat menunggu di ruang tes), kamu bisa melakukan latihan napas sederhana:

Latihan ini membantu menurunkan detak jantung dan memberi sinyal ke otak bahwa kamu aman, sehingga pikiran lebih jernih saat mengerjakan deret angka psikotes.

2. Self-Talk Positif yang Realistis

Alih-alih berkata, “Aku pasti gagal lagi,” ganti dengan kalimat yang lebih sehat dan realistis, misalnya:

Self-talk seperti ini bukan sekadar “kata-kata manis”, tapi benar-benar memengaruhi cara otakmu merespons stres.

3. Terima Bahwa Tidak Semua Soal Harus Selesai

Dalam banyak tes deret angka psikotes, soal memang sengaja dibuat lebih banyak daripada yang bisa diselesaikan dengan nyaman. Tujuannya bukan agar semua orang selesai, tapi untuk melihat:

Jadi, jangan jadikan “harus selesai semua” sebagai target. Targetmu adalah mengoptimalkan kemampuanmu dalam waktu yang ada, bukan mengejar kesempurnaan.

4. Setelah Tes: Jangan Menghukum Diri

Begitu selesai mengerjakan deret angka psikotes, hindari kebiasaan:

Lebih baik gunakan momen setelah tes untuk refleksi:

Dengan begitu, setiap pengalaman deret angka psikotes—lolos atau tidak—tetap menjadi investasi belajar untuk kesempatan berikutnya.

Kemampuan mengerjakan deret angka psikotes bisa meningkat signifikan jika kamu melatihnya dengan cara yang tepat, bukan sekadar mengerjakan ratusan soal tanpa evaluasi.

1. Mulai dari Pola Sederhana, Lalu Naikkan Tingkat Kesulitan

Jangan langsung lompat ke soal yang sangat rumit. Susun latihanmu seperti ini:

  1. Deret dengan pola tunggal (misalnya hanya +2, hanya ×3)
  2. Deret dengan pola selisih berubah (misalnya -1, -3, -5, …)
  3. Deret dengan kombinasi operasi (misalnya ×2 lalu +1)
  4. Deret campuran yang lebih kompleks

Dengan cara ini, otakmu membangun “kamus pola” secara bertahap, sehingga saat menghadapi deret angka psikotes yang lebih sulit, kamu sudah punya banyak referensi pola di kepala.

2. Latih Kecepatan Secara Bertahap

Awalnya, fokus dulu pada ketepatan. Setelah kamu cukup nyaman dengan berbagai pola, baru tambahkan elemen waktu:

Tujuannya adalah menemukan titik seimbang antara cepat dan tepat.

3. Evaluasi Kesalahan: Pola Apa yang Sering Menjebakmu?

Setiap selesai latihan deret angka psikotes:

Dari sini, kamu akan tahu kelemahan spesifikmu. Misalnya, kalau sering salah di pola selisih yang berubah, berarti kamu perlu lebih banyak latihan di jenis pola itu.

4. Simulasikan Kondisi Tes Sebenarnya

Sesekali, lakukan latihan deret angka psikotes dengan kondisi mirip tes asli:

Simulasi ini membantu otakmu terbiasa dengan tekanan waktu dan suasana “resmi”, sehingga saat hari H, kamu tidak kaget lagi.

Pada akhirnya, deret angka psikotes bukanlah tembok besar yang tidak bisa ditembus, melainkan tantangan yang bisa kamu persiapkan dan hadapi dengan strategi yang tepat. Kamu sudah melihat bahwa tes ini mengukur cara berpikir, ketelitian, dan konsistensi, bukan sekadar “siapa yang paling jenius”. Dengan mindset yang lebih sehat, teknik analisis pola yang sistematis, latihan terarah, dan kemampuan mengelola stres, peluangmu untuk tampil lebih baik di deret angka psikotes akan meningkat jauh dibanding sebelumnya. Jangan biarkan pengalaman gagal di masa lalu mendefinisikan masa depanmu; jadikan itu bahan bakar untuk belajar dan bangkit. Mulailah latihan kecil hari ini, satu deret angka psikotes demi satu, dan biarkan progresmu pelan tapi pasti membuktikan bahwa kamu mampu berkembang dan layak untuk kesempatan yang lebih besar.

Sumber Referensi

Program Premium Psikotes Kerja 2025

“Kami Bantu, Kami Pandu, Kami Bimbing Sampai Amazing!” 🌟

slider psikotes kerja
Slider_PsikotesKerja (1)
previous arrow
next arrow

📋 Cara Membeli dengan Mudah:

  1. Unduh Aplikasi Psikotes Kerja: Temukan aplikasi Psikotes Kerja di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
  2. Masuk ke Akun Anda: Login ke akun Psikotes Kerja Anda melalui aplikasi atau situs web.

Mau berlatih Soal-soal Psikotes Kerja? Ayoo segera Masuk Grup Latihan Soal-soal Psikotes Kerja Sekarang juga!!