Psikotes koran menjadi salah satu bentuk tes yang cukup dikenal dalam seleksi kerja karena tampilannya dipenuhi deretan angka dan harus dikerjakan secara berulang dalam batas waktu tertentu. Istilah ini umumnya merujuk pada Tes Pauli dan Tes Kraepelin, yang sama-sama menggunakan penjumlahan angka sederhana tetapi menuntut konsentrasi, ketelitian, kecepatan, dan kemampuan mempertahankan ritme kerja.
Meski terlihat seperti tes matematika, tantangan utamanya bukan menyelesaikan perhitungan sulit. Peserta justru perlu menjumlahkan angka secara konsisten sambil mengikuti instruksi perpindahan atau penandaan yang diberikan pengawas. Karena itu, persiapan psikotes koran lebih efektif jika diarahkan pada pemahaman cara pengerjaan, menjaga akurasi, dan membangun ritme yang stabil selama tes.
Psikotes Koran Itu Tes Apa

Psikotes koran adalah istilah populer untuk tes psikologi berbentuk deretan angka yang biasanya dikaitkan dengan Pauli Test dan Kraepelin Test. Peserta mengerjakan penjumlahan sederhana secara terus-menerus dalam susunan angka yang panjang.
CIMB Niaga menjelaskan Tes Pauli sebagai salah satu psikotes yang digunakan dalam proses rekrutmen dan berkaitan dengan pengukuran aspek kerja seperti ketelitian, konsentrasi, serta kemampuan menghadapi tekanan.
Sementara itu, bentuk dasar Tes Kraepelin dan Pauli sama-sama menggunakan angka yang disusun dalam kolom. Peserta kemudian menjumlahkan dua angka yang berdekatan sesuai aturan tes.
Karena tugasnya sederhana tetapi dilakukan berulang, peserta perlu menjaga performa hingga tes selesai.
Kenapa Disebut Tes Koran
Nama tes koran muncul karena lembar tes tradisional dipenuhi banyak kolom angka sehingga secara visual menyerupai halaman surat kabar.
Bukan berarti peserta diminta membaca artikel atau mencari huruf tertentu. Dalam pengertian yang paling umum di Indonesia, tes koran berkaitan dengan penjumlahan deretan angka, terutama dalam format Pauli atau Kraepelin.
Hal ini penting karena beberapa latihan internet mencampurkan tes koran dengan pencarian simbol, huruf, atau tes ketelitian lain. Bentuk-bentuk tersebut dapat menjadi latihan konsentrasi, tetapi tidak selalu merepresentasikan Pauli atau Kraepelin.
Bentuk Soal Psikotes Koran
Peserta biasanya melihat angka satu digit yang disusun vertikal seperti:
7
5
8
4
9
Tugasnya adalah menjumlahkan dua angka yang berdekatan.
7 + 5 = 12 → tulis 2
5 + 8 = 13 → tulis 3
8 + 4 = 12 → tulis 2
4 + 9 = 13 → tulis 3
Jika hasil penjumlahan terdiri dari dua digit, yang ditulis umumnya hanya digit satuannya. Sebagai contoh, 8 + 8 menghasilkan 16 sehingga peserta menuliskan angka 6.
Jadi, soal ini tidak membutuhkan rumus matematika yang rumit. Kesulitannya muncul karena proses tersebut dilakukan berkali-kali dengan tekanan waktu.
Cara Mengerjakan Psikotes Koran
Misalnya terdapat angka:
8 – 6 – 9 – 3 – 7 – 5
Jika instruksinya meminta menjumlahkan setiap pasangan angka yang berdekatan, hasilnya:
| Pasangan | Hasil | Ditulis |
|---|---|---|
| 8 + 6 | 14 | 4 |
| 6 + 9 | 15 | 5 |
| 9 + 3 | 12 | 2 |
| 3 + 7 | 10 | 0 |
| 7 + 5 | 12 | 2 |
Jadi yang perlu diperhatikan bukan hasil lengkapnya, melainkan angka satuan.
Setelah mendapat aba-aba tertentu, peserta harus mengikuti instruksi pengawas mengenai apakah harus membuat tanda, berhenti, atau berpindah ke kolom berikutnya. Karena mekanisme dapat berbeda menurut alat dan penyelenggara, instruksi pada hari tes tetap menjadi acuan utama.
Baca juga: Cara Memahami Perbedaan CV dan Lamaran Kerja dengan Mudah
Perbedaan Tes Pauli dan Kraepelin
Pauli dan Kraepelin sering disebut bersamaan karena bentuk dasarnya sama-sama menggunakan penjumlahan angka. Namun, tata cara keduanya tidak sepenuhnya identik.
| Aspek | Kraepelin | Pauli |
|---|---|---|
| Bentuk utama | Kolom angka | Kolom angka |
| Tugas | Menjumlahkan angka berdekatan | Menjumlahkan angka berdekatan |
| Arah yang umum dijelaskan di Indonesia | Bawah ke atas | Atas ke bawah |
| Instruksi selama pengerjaan | Umumnya berpindah kolom saat aba-aba | Umumnya memberi tanda/garis sesuai aba-aba |
| Fokus pengerjaan | Kecepatan dan ketelitian berulang | Konsistensi, ketelitian, dan daya tahan kerja |
Perbedaan arah dan mekanisme tersebut merupakan format yang umum dijelaskan dalam referensi tes koran Indonesia. Namun, peserta tetap harus mengikuti instruksi pengawas karena administrasi tes dapat berbeda.
Kemampuan yang Dinilai dalam Psikotes Koran
Meski tugasnya berupa penjumlahan, psikotes koran bukan sekadar tes kemampuan berhitung.
Dalam konteks seleksi kerja, aspek yang dapat diperhatikan antara lain ketelitian, konsentrasi, kecepatan kerja, konsistensi, dan kemampuan mempertahankan performa ketika mengerjakan tugas berulang.
Artinya, mengerjakan sangat cepat pada menit-menit awal belum tentu merupakan strategi terbaik jika setelahnya jumlah kesalahan meningkat atau ritme kerja turun drastis.
Hasil tes juga tidak sebaiknya diinterpretasikan sendiri hanya dari satu indikator. Penafsiran psikologis dilakukan berdasarkan prosedur dan sistem penilaian alat yang digunakan.
Contoh Soal Psikotes Koran
Latihan penjumlahan angka berurutan untuk membiasakan diri mengerjakan soal dengan cepat dan teliti.
Catatan: Contoh di bawah ini merupakan latihan sederhana. Ini bukan item tes resmi Pauli atau Kraepelin.
Contoh 1
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
6 + 8 = 14 → 4
8 + 5 = 13 → 3
5 + 7 = 12 → 2
7 + 9 = 16 → 6
Contoh 2
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
4 + 7 = 11 → 1
7 + 8 = 15 → 5
8 + 6 = 14 → 4
6 + 5 = 11 → 1
Contoh 3
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
9 + 8 = 17 → 7
8 + 7 = 15 → 5
7 + 6 = 13 → 3
6 + 9 = 15 → 5
Contoh 4
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
5 + 3 = 8 → 8
3 + 8 = 11 → 1
8 + 4 = 12 → 2
4 + 7 = 11 → 1
Contoh 5
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
7 + 2 = 9 → 9
2 + 9 = 11 → 1
9 + 5 = 14 → 4
5 + 6 = 11 → 1
Contoh 6
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
8 + 4 = 12 → 2
4 + 6 = 10 → 0
6 + 9 = 15 → 5
9 + 3 = 12 → 2
Contoh 7
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
3 + 9 = 12 → 2
9 + 5 = 14 → 4
5 + 8 = 13 → 3
8 + 4 = 12 → 2
Contoh 8
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
2 + 6 = 8 → 8
6 + 7 = 13 → 3
7 + 3 = 10 → 0
3 + 8 = 11 → 1
Contoh 9
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
5 + 8 = 13 → 3
8 + 2 = 10 → 0
2 + 9 = 11 → 1
9 + 7 = 16 → 6
Contoh 10
Deretan angka:
Hitung dua angka yang berdekatan:
9 + 4 = 13 → 3
4 + 6 = 10 → 0
6 + 5 = 11 → 1
5 + 8 = 13 → 3
Tujuan latihan semacam ini bukan menghafal jawaban, tetapi membangun otomatisasi penjumlahan sederhana agar energi mental dapat lebih banyak digunakan untuk menjaga fokus.
Baca juga: Cara Efektif Menghadapi Tes Kraepelin dalam Seleksi Kerja
Cara Berlatih agar Lebih Cepat dan Teliti

Persiapan psikotes koran sebaiknya dilakukan secara bertahap. Referensi yang kamu berikan juga menekankan latihan rutin, pemahaman instruksi, penggunaan timer, serta evaluasi setelah latihan.
Pada tahap awal, utamakan akurasi. Misalnya kerjakan deretan angka selama beberapa menit dan hitung berapa jawaban yang benar maupun salah.
Setelah penjumlahan mulai terasa otomatis, tingkatkan durasi latihan secara bertahap. Tujuannya bukan memaksakan kecepatan maksimal sejak awal, melainkan membangun ritme yang dapat dipertahankan.
Saat latihan, catat tiga hal:
jumlah yang dikerjakan, jumlah kesalahan, dan kestabilan kecepatan.
Jika jumlah pengerjaan tinggi tetapi kesalahan juga banyak, kurangi tempo sedikit. Sebaliknya, jika semua benar tetapi terlalu lambat, kecepatan dapat dinaikkan secara bertahap.
Jangan Terlalu Cepat di Awal
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengerjakan sangat cepat sejak awal karena ingin memperoleh hasil sebanyak mungkin.
Masalahnya, tes bersifat repetitif. Jika tenaga dan konsentrasi terlalu banyak digunakan di bagian awal, performa dapat turun ketika tes masih berlangsung.
Strategi latihan yang lebih masuk akal adalah mencari ritme kerja yang cepat tetapi tetap dapat dipertahankan.
Ketika memperoleh aba-aba, langsung ikuti instruksi. Jangan mencoba menyelesaikan beberapa angka tambahan karena hal itu justru dapat membuat posisi pengerjaan berantakan.
Baca juga: Dari Bingung Jadi Siap Cara Menghadapi Psikotes Kerja dengan Strategi yang Benar
Mini FAQ
Apa itu psikotes koran?
Psikotes koran adalah istilah yang umum digunakan untuk tes Pauli atau Kraepelin, dengan lembar berisi banyak kolom angka yang dikerjakan melalui penjumlahan berulang.
Kenapa dinamakan tes koran?
Karena lembar tradisionalnya dipenuhi kolom-kolom angka sehingga tampilannya menyerupai halaman koran.
Apa yang dihitung dalam psikotes koran?
Peserta umumnya menjumlahkan dua angka yang berdekatan lalu menuliskan digit satuan dari hasilnya.
Apa perbedaan Pauli dan Kraepelin?
Keduanya sama-sama menggunakan penjumlahan angka, tetapi memiliki perbedaan dalam arah pengerjaan dan mekanisme mengikuti aba-aba.
Apakah psikotes koran menguji kemampuan matematika?
Bentuk tugasnya menggunakan hitungan sederhana, tetapi penggunaannya dalam asesmen kerja lebih berkaitan dengan aspek seperti kecepatan, ketelitian, konsentrasi, dan konsistensi.
Berapa lama psikotes koran dikerjakan?
Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua tes. Waktu dapat berbeda menurut versi alat dan prosedur penyelenggara, sehingga ikuti instruksi saat tes.
Apakah psikotes koran memiliki passing grade?
Tidak ada nilai kelulusan universal yang dapat diterapkan ke semua perusahaan dan semua administrasi tes.
Kesimpulan
Psikotes koran merupakan tes berbasis penjumlahan angka berulang yang umumnya dikenal dalam bentuk Tes Pauli dan Kraepelin. Peserta menjumlahkan angka yang berdekatan, menuliskan digit satuan, lalu terus mengerjakan sesuai arah dan instruksi tes. Walaupun perhitungannya sederhana, pengerjaan dalam jumlah besar membuat konsentrasi, ketelitian, kecepatan, dan kestabilan ritme menjadi penting.
Persiapan sebaiknya tidak diarahkan pada mencari “trik grafik agar lolos” atau mengejar kecepatan secara berlebihan. Latih penjumlahan sederhana sampai otomatis, gunakan timer, evaluasi kesalahan, dan biasakan mempertahankan ritme kerja. Dengan cara tersebut, kamu dapat menghadapi psikotes koran dengan pemahaman mekanisme yang lebih baik tanpa harus menghafalkan soal tertentu.


